Menyelesaikan program doktor dari University of Sciene Penang Malaysia, suami Hasibyah ini, memang dikenal keberpihakannya pada masyarakat pinggiran. Sesuai latar belakang keilmuannya, Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Semarang tersebut juga banyak memberikan perhatian untuk perkembangan UMKM di Jateng.
’’UMKM adalah bentuk ekonomi kerakyatan. Kenapa harus didukung? Ya karena ekonomi kerakyatan terbukti tangguh. Mereka pernah menjadi tulang punggung perekonomian ketika Indonesia dilanda krisis,’’ tutur lelaki kelahiran Ngawi Jatim ini.
Terbukti tangguh UKM pun harus diperjuangkan. Jangan malah dilupakan ibarat habis manis, sepah lalu dibuang. Butuh diciptakan kebijakan humanis meski mereka bukan usaha sarat modal.
’’Kendati demikian paket kebijakan pemerintah sebenarnya sudah mulai bagus. Perhatian pemangku kepentingan baik di daerah maupun pusat juga terus membaik. Meski begitu perhatian terhadap UKM memang tak boleh padam,’’ kata mantan Pembantu Rektor (PR) II Undip itu.
Tak bisa disangkal perhatian Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) itu pada masyarakat menengah ke bawah dikaitkan latar belakang kehidupannya. Nasir, semasa kecil pernah merasakan pondok pesantren.
Dia pun dekat dengan banyak kalangan termasuk pedagang kecil yang butuh perhatian. Kaum pedagang mengaku butuh kebijakan yang mengayomi. Persoalan semacam ini yang akhirnya tertanam di benak Nasir untuk bisa menolong mereka.
Saat sudah berhasil lulus kuliah di tiga PT bergengsi Undip, UGM, University of Sciene Penang Malaysia tanpa canggung bergabung dalam Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jateng. NU sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, dikenal memiliki basis masa kuat di kalangan pondok pesantren.
Persaingan Asean
Ilmuwan yang pernah dekat dengan mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu menambahkan, ke depan tantangan yang dihadapi UMKM semakin berat. Mereka, yang terdekat bahkan harus berhadapan dengan pasar bebas ASEAN 2014. Tanpa diberikan pemberdayaan atau kebijakan memadai bisa-bisa banyak UMKM yang bakal tergilas.
’’Itu menjadi perhatian kami sepenuhnya. Pada umumnya usaha mikro ini sebatas berbadan hukum usaha dagang (UD), CV atau dibawah perseroan terbatas (PT) dengan manajemen usaha sederhana. Akan mampukah mereka nanti bersaing dengan pemodal asing yang mudah masuk Indonesia,’’ tuturnya.
Namun dia mengaku tak pesimistis. Masih banyak langkah nyata yang bisa ditempuh melindungi UMKM. Pemerintah bisa saja menerbitkan kebijakan yang mendukung bertumbuhkembangnya usaha kelas ini.
UMKM bisa juga bergandengan tangan dengan investor untuk penguatan modal. Bagaimanapun persoalan menyuntik modal untuk UMKM bisa dilakukan semua pihak. Pemerintah atau swasta boleh memiliki kepedulian serupa untuk memajukan dunia usaha kelas menengah ke bawah.
Anggota Lembaga Sertifikasi Profesi Akuntansi Indonesia tersebut menambahkan persoalan lain yang dihadapi adalah kepercayaan dari lembaga pembiayaan. Lantaran skala usahanya kecil banyak lembaga pembiayaan enggan melirik.
Usaha menengah dinilai tidak bankable atau memenuhi persyaratan untuk diberikan kucuran kredit. Kondisi UMKM pada posisi dilematis ketika dikeluarkan UU Nomor 21 tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Pasalnya tak semua lembaga pembiayaan yang selama ini banyak membantu UMKM dianggap kredibel lantaran kecil permodalannya. Nasir pun mendorong perbankan untuk bisa memberikan solusi pada UMKM.
’’Bank memang seharusnya menambah porsi pengucuran kredit produktif. Kurangi kredit konsumtif dengan menaikkan nilai kredit produktif hingga 60 persen. Dan itu, 20 persennya butuh dialokasikan untuk UMKM,’’ terangnya.[suaramerdeka]

0 Response to "Guru Besar UNDIP Peduli UMKM"